Wednesday, July 11, 2012

SEJARAH OBAT

Primitif
Setelah mereka mengenal api dan cara menggunakannya, manusia purba bisa dibilang terpisah peradabannya dari binatang. Dengan api meraka terlindung dari hawa dingin dan membuat makanan lebih lezat. Catatan mengenai cara hidup mereka masih dapat kita jumpai di dinding-dinding gua gua. Dari lukisan dinding inilah kita dapat mengetahui cara nenek moyang kita mengobati sesamanya. Mungkin secara tidak sengaja mereka telah menemukan akar, kulit kayu, daun dan buah-buahan yang mempunyai khasiat tertentu.

Cina
Salah satu catatan pengobatan tertua terdapat di Cina. Catatan tersebut ditulis oleh kaisar Shen Nung yang hidup pada 2735 SM. Ia mengumpulkan buku-buku tentang tanaman dan menulis seluruh data obat-obatan yang diketahui saat itu. Dia juga mampu memberikan resep dari berbagai tanaman di Cina saat itu. contohnya : daun Ch'ang Shan mampu menyembuhkan demam yang diakibatkan oleh parasit dari nyamuk malaria. 

Obat tersebut berupa bubuk yang berasal dari akar tanaman lumut saxifragaceae (sekarang dinamakan dichroa febrifuga). 4700 kemudian barulah ilmuwan Cina berhasil menemukan senyawa yang berasal dari lumut tersebut yang terbukti dapat mengontrol pertumbuhan parasit nyamuk dalam tubuh.

Daun tanaman lumut ini biasa disebut Shun Chi juga juga diteliti oleh ilmuwan Amerika pada perang dunia II untuk melindungi tentaranya dari serangan malaria saat bertugas di daerah tropis. Meski berhasil menemukan obat malaria, namun rasa mual yang ditimbulkan parasit tersebut tidak bisa ditanggulangi. Kaisar Shen Nung juga menemukan khasiat tanaman lain yaitu tanaman Ma Huang (sekarang disebut Ephedera sinica). Kandungan utama Ephedera ini adalah alkaloid. Ephedera ini berkhasiat untuk merangsang tekanan darah dan pernafasan. Khasiat Ephedera ini baru ditemukan kembali oleh Nagai, seorang ilmuwan Jepang pada tahun 1887 (sekitar 4600 tahun kemudian). Pada buku Pen Tsao (Tanaman Obat) yang ditulis 5000 tahun yang lalu juga direkomendasikan minyak jarak untuk cuci darah dan biji opium untuk tidur.Tradisi pengobatan Cina selama 5000 tahun tetap berkembang hingga sekarang. Sebagian filosof kuno Cina berpendapat bahwa sakit disebabkan oleh iblis yang selalu bertentangan dengan kebaikan. Mereka berpendapat bahwa alam adalah kebaikan dan dapat menyembuhkan. Sedangkan ilmuwan kuno Cina berpendapat bahwa alam tidak selalu bersifat baik. Ada sifat alam yang merugikan, semisal gempa bumi, banjir, dll. Banyak juga tanaman yang mengandung racun yang mematikan. 

Penggunaan tanaman sebagai racun telah tersebar luas. Kita dapat melihat sejarah pembunuhan, bunuh diri, dan kematian karena meminum tanaman jenis racun, seperti juga peperangan yang menggunakan panah yang telah diolesi racun. Beberapa ahli farmasi Cina berpendapat bahwa racun sintetis jauh lebih berbahaya daripada racun alami. Tapi pendapat ini tidak terbukti kebenarannya. Beberapa senyawa sintesis memang sangat beracun, beberapa tidak. Hal itu juga berlaku bag ibahan alami. Pada ratusan kasus, manipulasi secara kimia dari bahan alami telah mengurangi kadar kekuatan racun dari antibiotik, hormon, bisa ular dan zat aktif biologi lainnya. Seringkali bahan semisintesis dan semacamnya ternyata lebih aman digunakan dalam pengobatan ketimbang bahan alami.

Hindu
Peradaban Hindu kuno telah mencatat penggunaan buah chaulmoogra yang minyaknya dioleskan untuk mengobati penyakit lepra. Kita tahu bahwa pengolesan minyak buah chaulmoogra ini tidak efektif melawan bakteri lepra. Penggunaan buah ini telah digantikan oleh obat sintesis dan metode pengobatan lainnya.

Mediterania
Bangsa Mediterania menggunakan bubuk kepala bunga Artemesia maritima yang dikeringkan untuk mengobati cacingan. Tanaman ini berasal dari Rusia tengah. Bahan aktif di dalamnya adalah santonin, Sampai saat ini para ilmuwan tidak dapat memisahkan antara dosis yang efektif dan dosis racun. Namun santonin tetap digunakan sampai saat ini untuk mengobati infeksi cacing gelang pada hewan ternak.

Tanaman lain yang berkhasiat untuk cacingan adalah goosefoot (Chenopodium anthelminticum). Dari bunganya keluar uap yang mudah menguap yang mengandung bahan aktifascridole. Bangsa Romawi memberi nama tanaman tersebut Chenopodium, bangsa Yahudi menyebutnya Oak Yerusalem, dan yang lain menyebutnya Teh Meksiko.
Zat sejenis yang berkhasiat untuk mengeluarkan cacing pita didapat dari minyak pohon paku jantan. Minyak yang kental dan berwarna hijau ini juga mengandung bahan aktif ascaridole. Pada manusia, dosis yang tepat adalah dosis yang hampir sama dengan dosis yang berbahaya. Karena itu pengobatan tersebut kini dilarang penggunaannya.

Indian
Suku Indian di Amerika Tengah dan Selatan terkenal sangat maju dalam teknologi farmasi. Suku Aztek sering kali menulis ilmu pengobatan mereka di batu-batuan. Namun pengetahuan kita tentang metode pengobatan mereka kita dapat dari tulisan kuno oleh pendeta Spanyol saat bangsa Spanyol yang dipimpin oleh Hernan Cortes (1484-1547) mencoba menguasai benua Amerika. 

Suku Indian menggunakan banyak zat yang terkandung dalam tembakau dan tanaman yang mengandung zat yang memabukkan. Namun yang paling fantastik adalah penggunaan sejenis jamur yang dikeramatkan untuk upacara ritual. Jamur yang memabukkan ini digunakan pada upacara ritual untuk mempengaruhi pikiran mereka supaya lebih khidmat dalam melakukan upacara.
Kini, banyak jenis jamur, bunga, dan tanaman perdu yang telah diekstrak secara kimia dan telah berhasil diidentifikasi bahan aktif di dalamnya. Contohnya adalah peyote (sejenis kaktus kecil) yang sekarang dinamakan Lophopora williamsii yang mengandung alkaloid terutama meskalin yang menyebabkan halusinasi.

Suku Indian menyebut Jamur yang dikeramatkan itu teonacatl yang berarti "daging Tuhan". Beberapa jamur ini berasal dari spesies Psilocybe dan dapat menyebabkan halusinasi.
Pendeta Spanyol yang saat itu datang bersama penjajah Spanyol sangat membenci tanaman jamur tersebut setelah mereka melihat penggunaan jamur tersebut pada upacara pengorbanan oleh Suku Aztek. Dahulu Suku Aztek secara rutin mengadakan upacara pengorbanan manusia untuk diambil jantungnya setelah sebelumnya disiksa terlebih dahulu. Mereka melakukan penyiksaan dalam upacara tersebut sebenarnya berada dalam keadaan mabuk (terhalusinasi) karena jamur tersebut.

Yunani
Pada tahun 400 sebelum masehi Hipocrates, bapak farmasi, tertarik menggunakan garam anorganik sebagai obat. Hasil karya Hipokrates digunakan selama berabad-abad dan para ahli kimia terus menerus melakukan penelitian untuk membuat obat dari bahan anorganik. Sampai saat ini pun kita juga masih banyak menggunakan bahan anorganik sebagai obat. Misalnya magnesium sulfat (biasa disebut garam Epsom karena banyak ditemukan di kota Epsom Inggris), garam alumunium astringent, sodium, natrium klorida dan garam-garam kalsium untuk mencegah berbagai defisiensi (kekurangan zat). Barium sulfat digunakan supaya hasil radiasi sinar X terlihat kontras. Yodium digunakan untuk mencegah kekurangan hormon tiroid dan flour untuk kekuatan gigi.

Senyawa emas dalam kedokteran masa lalu digunakan untuk penyakit sendi. Perak nitrat digunakan untuk mencegah kebutaan pada penderita kencing nanah sebelum penisilin ditemukan.

Sebuah sumbangan besar bagi dunia farmasi juga diberikan oleh seorang ahli botani dari Perganum, Yunani bernama Claudius Galenius (biasa disebut Galen) yang hidup pada tahun 200 M. Kebanyakan obat yang dibuat Galen terbuat dari bahan tanaman. Bahkan Galen berpendapat bahwa zat dalam tanaman saja sudah mampu mencukupi seluruh kebutuhan manusia untuk hidup sehat. Sedangkan kita sekarang mengetahui bahwa seorang yang melakukan diet ketat dengan tidak memakan daging, keju, telur dan susu tidak dapat mencukupi kebutuhan semua jenis kebutuhan protein dan asam amino dalam tubuh. Namun begitu Galen adalah pelopor penggunaan berbagai macam tanaman untuk pengobatan. Diantara bahan obat favoritnya adalah hyoscyamus (yang mengandung atropine), opium (sumber morfin) dan squill (perangsang denyut jantung).

Obat Sintesis
Sesuatu yang diketahui sebagai obat tanaman, mineral dan jaringan disebut materia medica. Istilah materia medica ini masih kita gunakan untuk informasi obat-obatan (semacam kode dan label obat) sampai saat ini. Bahasa latin banyak digunakan disini karena bahasa latin adalah bahasa resmi para biarawan masa lalu dan supaya orang awam tetap tidak tahu banyak tentang informasi detail obat-obatan sehingga hal yang tidak diinginkan seperti penyalahgunaan dan kesalahan peracikan oleh orang awam tidak terjadi.

Ketika selebaran sudah tidak muat lagi menampung informasi pengobatan, maka dibuatlah jurnal dan buku tentang pengobatan. Beberapa buku pengobatan pertama kali muncul diterbitkan di Florence tahun 1498, enam tahun setelah Columbus tiba di Dominica. Diikuti oleh Nuremberg (1535), Basel (1561), Augsburg (1564) dan London (1618). Standart kemurnian dan cara peracikan obat selalu disertai dengan deskripsi bahan dan mineral yang terkandung di dalamnya. Akhir abad pertengahan kebetulan adalah awal kebangkitan ilmu kimia. Kimia primitif biasanya selalu berhubungan dengan bahan anorganik. Namun ketertarikan baru akan kimia anorganik telah membuat bahan botani sebagai bahan skunder pembuatan obat-obatan karena telah digantikan oleh zat kimia anorganik.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More